SINERGIKAN INSPIRASI ANDA BERSAMA PUSTAKA BUNAYYA

APAPUN WUJUDNYA, SEBUAH BUKU ADALAH SETETES ILMU
INSPIRASI DIRI

Nama saya Junjunan Amirudin,labih simpel dipanggil AMIR. Saya lahir tanggal 3 Juni 1974 di Kelurahan Utan Kayu Jakarta Timur. Ayah saya Dedeng Wirabrata berasal dari Singaparna - Tasikmalaya, pensiunan PNS Depsos,Ibu saya Sri Lestari berasal dari Wonosobo Jawa Tengah, juga pensiunan PNS Depsos. Saya adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak laki-laki pertama bekerja sebagai petani di Kota Pidie Nanggroe Aceh Darussalam. Kakak laki-laki kedua bekerja sebagai tenaga pengawas bangunan di Kota Jogyakarta. Adik perempuan saya tinggal di Kota Tasikmalaya Jawa Barat mengikuti suaminya yang bekerja sebagai seorang wirausaha. Sedangkan adik laki-laki bungsu kerja di PKU Muhammadiyah Jogya, masih tinggal bersama orang tua.

Saya berasal dari keluarga sederhana. Meskipun kedua orangtua saya bekerja, mereka tidak pernah mempekerjakan pembantu rumah tangga. Semua Tugas rumah tangga dilakukan sendiri oelah bapak dan ibu dibantu kami anak-anaknya.Kami saling bahu-membahu dalam menangani tugas-tugas rumah tangga. Sejak kecil saya dan kakak-kakak sudah terbiasa membantu ibu merapikan kamar tidur, menyapu dan mengepel lantai serta mencuci pakaian kami sendiri. Tugas yang cukup berat bagi saya saat itu adalah mengantar jemput adik yang masih duduk di TK Kecil.Masa kanak-kanak saya sudah berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti dinas orangtua.Pada awalnya saya tidak merasa nyaman dengan keadaan ini karena berkali-kali meninggalkan teman-teman sepermainan yang sudah akrab untuk kemudian belajar menyesuaikan diri lagi ditempat tinggal yang baru. Namun setelah beranjak remaja, saya mulai menyadari bahwa memiliki teman baru dan tempat tinggal baru adalah hal yang menyenangkan karena banyak hal baru yang bias saya pelajari.MASA SEKOLAH Saya merasakan pendidikan mulai pra sekolah sejak usia 3 tahun.Awalnya saya masuk TPA (Tempat Penitipan Anak) yang ada dikantor bapak saya, kemudian masuk TK pada usia 4 tahun.Pada tahun 1981 di usia 6 tahun saya sudah masuk sekolah dasar di bamboo apus jakaarta timur. Setahun kemudian saat naik kelas 2 Sekolah Dasar,saya mengikuti orangtua pindah ke Kota Dili Timor-TImur hingga lulus pada tahun 1986.Awalnya ketika tinggal di Timor-timur saya merasa tidak betah, dicekam rasa takut karena situasi di wilayah itu seperti dalam kondiri perang.Namun seiring dengan kondisi yang semakin nyaman dan pendatang mulai berdatangan dari seluruh Indonesia, saya mulai menikmati kehidupoan di daerah terpencil. Teman-teman saya berasl dari seluruh Indonesia dari medan hingga kupang. Disanalah yang mulai merasa bangga jadi orang Indesia yang terdiri dari berbagai suku dan budaya.

Pada saat duduk di bangku kelas 1 di SMP 2 Dili, orangtua bermaksud menitipkan saya kepada saudara yang berada di Magelang karena melihat potensi akademik saya diharpkan bias berkembang lebih optimal jika sekolah di Jawa. Namun hal tersebut urung dilakukan karena nenek saya tidak setuju karena khawatir akan merepotkan saudaaa tersebut. Akhirnya pada saat naik kelas 2 SMP saya dikirim ke Bandung bersekolah di SMP 11 Bandung hingga Tamat pada tahun 1989. Selama di Bandung saya tinggal dengan kedua orang kakak di rumah peninggalan kakek tanpa dampingi orangtua yang tetap berdinas di Timor-timur.

Kemudian saya melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 11 Bandung. Ketiadaan pengawasan dari orangtua dan pengaruh lingkungan yang kurang baik mengakibatkan kondisi mental saya menurun, sering sakit-sakitan. Melihat hal itu, maka orang tua saya memutuskan untuk kembali memindahkan saya ke Timor-timor dan bersekolah di SMA 2 Dili Timor-Timur. Tinggal dengan orangtua telah menyembalikan semangat dan tingkah laku saya sehingga saya dapat menyelesaikan SMA dengan baik pada tahun 1992.

Saya mendapat kesempatan emas untuk dapt melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada melalui jalur program PBUD (Penjaringan Bibit Unggul Daerah). Pada awalnya saya tidak dijinkan mengiktui program PBUD tersebut dengan alas an siswa pindahan, namun karena berkat kegigihanyang saya tunjukkan dan atas rahmatNya lah saya bias lulus terbaik. Kejadian itu merupakan peristiw besar dalam hidup saya yang tidak hanya mempengaruhi, namun telah membuat saya \semakin yakin pada kemampuan diri dan kemahakuasaan Nya.

Keberangkatan saya untuk mengikuti kuliah di kampus UGM Jogjakarta tidak diketahui oleh bapak saya karena beliau sedang melaksanakan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, bapak sangat terkejut, dan terharu atas prestasi yang saya telah raih. Dalam hati kecil, saya berjanji untuk tidak menyianyiakan kesempatan ini, saya ingin berbuat terbaik, tidak hanya bagi diri saya, tapi juga untuk menyenangkan hati orangtua.

Sejak menjadi mahasiswa pada tahun 1992, saya benar-benar menikmati kehidupan perkuliahan dan selalu bersungguh-sungguh menjalani kuliah, walau dengan anggaran yang sangat terbatas dari orangtua. Pada saat duduk di semester VI di tahun 1996, saya memutuskan untuk kuliah sambil bekerja berjualan buku-buku bekas dengan petimbangan memenuhi kebutuhan perkuliahan yang semakin besar dan turut meringankan beban ekonomi bapak yang akan pension pada tahun 1997. Keputusan saya pada awalnya tidak disetujui olah bapak dengan harapan agar saya focus pada perkuliahan. Namun setelah saya menjamin bahwa pekerjaan yang saya lakukan tidak menggangu kegiatan perkuliahan, barulah bapak saya menyetujui.

Pada akhir tahun 1997, menjelang penyusunan skripsi tugas akhir, bapak menyodorkan selembar pengumuman tentang Penerimaan Perwira Bersiswa PA PK kepada saya. Pada awalnya saya kurang berminat, karena saya bercita-cita menjadi dosen atau kontraktor setelah lulus kuliah. Namun setelah saya menyimak saran dan nasehat bapak dengan mata berkaca-kaca penuh harap, akhirnya saya berupaya memenuhi harapan tersebut. Sekali lagi, modal saya hanyalah keyakinan diri dan usaha terbaik untuk memenuhi amanah orangtua. Setelah menjalani proses seleksii penerimaan yang cukup panjang dan melelahkan, Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus sebagai Mahasiswa Baesiswa PA PK ABRI pada bulan maret tahun 1998. Sekembalinya ke kampus saya sangat bersemangat untuk segera menyelesaikan skripsi tentang penataan kembali museum TNI AU Dirgantara Mandala. Pada bulan oktober 1998 saya diwisuda menjadi Sarjana Teknik. Setelah itu saya segera menyurus ijin untuk mengikuti Dikma SEPA PK di Akmil Magelang.

Menjadi pendidikan pertama militer yang saya alami, ternyata sangat berat, ini semua diluasr perkiraan saya. Mental saya sempat down karena berada pada lingkungan yang penuh aturan dan tekanan. Sangat berbeda dengan kehidupan sipil. Kdang terbersit dalam hati kapan penderitaan ini berarkhir, Setiap dengan membayangkan senuym di wajah orangtua, sya bias kembali bersemangat, menjalani hari-hari panjang dan menegangkana akhirnya saya diwisuda menjadi Perwira Pertama pada tanggal 3 Juli 1999 dengan pangkat letnsan dua. Semakin besar kebanggaan yang terpancar pada wajah orangtua, semakin besar pula rasa syukur saya pada Yang Maha Kuasa. Segala ini adalah karunianya.

PENUGASAN

Setelah menjalani pendidikan lanjutan Sussarjeman A-VIII pada tahun 1999 dan Sesarcab Fasins A-1 tahun 2000, saya mendapat Skep sebaai Kaur Masterplan Sitalan Subdis Ren Disfaskonau. . Pada saat berdinas di Disfaskon Mabesau hingga bulan September 2001, kemudian mendaatkan Skep menjadi KAsi Fasins Lanud Maimun Saleh Sabang hingga tahun 2003. Pada bulan april 2003 saya kembali berdinas di Disfaskonau sebagai Kasubdi Ranged Si Konbang Subdis Rankon selama lebih kuraang 3,5 tahun. Pada bulan September 2006 saya kembali mendapatkan skep sebagai Kasi Fasin Lanud Suryadarma hingga bulan maret tahun 2009 saya kembali mendapatkan skep kembaliu berdinas di Disfaskonau.

KELUARGA

Saya menikah pada tanggal 2 Februari 2002. Sebulan sebelum berangkat ke Sabang, saya berkenalan dengan seorang wara berpangkat sertu bernama Niah Kusumawaty. Semula saya hanya sekedar mengaguminya karena dia seorang peterjun. Setelah berdinas di Sabang, komunikasi kami kembali terjalin. Akhirnya kami merasa cocok dan sepakat untuk membentuk keluarga yang didasari rasa saying dan saling pengertian. Pada tanggal 2 Februari 2003, saat banjir besar melanda Jakarta, kami menikah di Ardhya LOka Halim Perdana kusuma. Kehadiran 2 orang buah hati yang sangat saya sayangi. Anak pertama laki-laki telah berumur 6 tahun masuk Sekolah Dasar dan adiknya perempuan berumur 3 Tahun juga masuk TK tahun ini telah menjadikan diap saya lengkap. Kami sekeluarga merasa berbahagia, kini tinggal di Jl. Ngarbingan 49 KOmplek Trikora Halim.

KEGEMARAN/HOBI

Kegemaran/hobi saya sesungguhnya jauh dari kesan militer yang berbau fisik. Hobi saya adalah membaca buku, menggambar dan meneruskan usaha berjualan buku dengan membuka Kios Buku di daerah Cibubur sebagai sarana berlatih sehingga tidak kaget ketika pension dari TNI AU. Kegemaran saya yang utama adalah membina dan mengarahkan beberapa anak muda lulusan SMP/SMA untuk mampu berwirausaha dan mengembangkan jiwa kemandiriannya. Saya sangat senang membantu dan memotivasi orang yang kemauan keras untuk maju dan mandiri agar hidupnya kelak tidak tergantung pada orang lain dan bahkan bias turut membantu kesuksesan orang lain..

Istri saya mempunyai hobi yang cukup menantang dan penuh resiko, yaitu terjun payung. Menurutnya, ia telah tejun sebanyak lk 500 jam. Sejak awal kami telah berkomitmen, sepanjang kegiatan itu tidak mengganggu kepentingan keluarga dan kondisi badannya sehat, saya akan tetap selalu mendukungnya, karena hal pertama yang saya kagumi dari diri istri saya adalah ketabahan dan keberaniannya.

Amir Mozart

27 Juli 2009

Cari Koleksi Buku di Blog Ini

Memuat...

ENERGI VISUAL

Loading...